Bau nyale adalah istilah yang kerap kali digunakan oleh masyarakat suku
sasak kepulauan Lombok. Dimana "Bau" dalam bahasa Indonesia artinya
menangkap sedangkan "Nyale" adalah cacing laut yang tergolong jenis filum annelida.
Tradisi ini biasanya jatuh pada bulan februari dan maret. Ia dan memang
betul hari ini 16 februari adalah hari pertama dirayakannya festival Bau
Nyale hingga esok 17 februari. Pesta rakyat sekaligus penangkapan
cacing-caing laut itu banyak menarik perhatian masyarkat lokal maupun
mancanegara. Tradisi Bau Nyale salah satu tardisi turun temurun yang dilakukan sejak
ratusan tahun silam. Awal mula tradisi ini tidak ada yang mengetahui
secara pasti. Namun berdasarkan isi babad sasak yang dipercaya oleh
masyarakat, tradisi ini berlangsung sejak sebelum 16 abad silam.
Nyale memiliki kandungan protein yang jauh lebih tinggi dari telur ayam
ras dan susu sapi. Sebagai perbandingan, Nyale memiliki kandungan
protein sebanyak 43.84% sedangkan telur ayam ras dan susu sapi
masing-masing hanya sebesar 12.2% dan 3.50%. Kadar fosfor dalam Nyale
(1.17%) juga cukup tinggi bila dibandingkan dengan telur ayam ras
(0.02%) dan susu sapi (0.10%). Nyale bahkan memiliki kandungan kalsium
(1.06%) yang ternyata masih lebih tinggi dari kandungan kalsium susu
sapi yang hanya 0.12%. (sumber: https://gembolransel.com/2013/05/22/cacing-kaya-gizi-yang-muncul-setahun-sekali/)
Alkisah
dahulu kala di Kerajaan Tonjang Beru, hidup seorang putri berparas elok
menawan. Kecantikannnya mencuri perhatian sejumlah pangeran dari
sejumlah kerajaan. Satu per satu sang pangeran melayangkan lamaran. Tak
satu pun dari lamaran itu yang diiyakan. Sejumlah pangeran dapat
menerima penolakan sang putri dengan hati lapang, kecuali kedua pangeran
dari Kerajaan Johor dan Kerajaan Lipur yang menerima penolakan dengan
hati meradang.
Ancaman
perang pun dilayangkan demi memaksa sang putri agar menerima lamaran
pangeran. Tak ingin rakyatnya menjadi korban, sang putri pun memilih
mengorbankan dirinya. Pada hari yang telah ditentukan, sang putri
mengundang kedua pangeran untuk datang menemuinya di tepi pantai. Bukan
untuk memilih salah satu diantara mereka. Dihadapan sekian rakyatnya,
sang putri justru memilih melompat dari tebing, menghilang dalam
gelombang, melebur dengan lautan.
Tak
lama berselang setelah sang putri menghilang, dari segala penjuru
pantai, muncul ribuan cacing yang dipercaya rakyatnya sebagai jelmaan
Putri Mandalika. Cacing ini kemudian dikenal dengan nama ‘Nyale’ yang
muncul secara rutin setiap tahun. Kemunculannya kini menjadi agenda
pariwisata tahunan Kabupaten Lombok Tengah bertajuk ‘Festival Bau
Nyale’.
No comments:
Post a Comment