Saturday, July 7, 2018

PENGELOLAHAN SAMPAH MEDIS DI RUMAH SAKIT (TUGAS FKM)

A.   Tujuan
1.      Mempelajari tentang pengolahan sampah medis di RS
2.      Dapat menganalisis dan mengkritisi pengolahan sampah di RS
B.     Dasar Teori
Rumah Sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat berkum- pulnya orang sakit maupun orang sehat, atau dapat menjadi tempat penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan (Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004). Rumah sakit merupakan penghasil limbah medis terbesar apabila dibandingkan dengan sarana pelayanan kesehatan lain , misalnya puskesmas, poliklinik, laboratorium dan dokter swasta maka produksi limbah medis yang dihasilkan  dari kegiatan rumah sakit tersebut lebih besar.
Menurut Giyatmi (2003) kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat dan gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. Unsur-unsur yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan pelayanan rumah sakit (termasuk pengelolaan limbahnya), yaitu
·         Pemrakarsa atau penanggung jawab rumah sakit.
·         Pengguna jasa pelayanan rumah sakit.
·         Para ahli, pakar dan lembaga yang dapat memberikan saran-saran.
·         Para pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana dan fasilitas yang diperlukan.
Limbah medis merupakan masalah yang cukup serius, terutama di kota-kota besar. Sehingga banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, swasta maupun secara swadaya oleh masyarakat untuk menanggulanginya, dengan cara mengurangi, mendaur ulang maupun memusnahkannya.  Limbah yang di hasilkan dari upaya medis seperti Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit yaitu  jenis limbah yang termasuk dalam kategori biohazard  yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana disana banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat zat yang membahayakan lainnya, sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu di atas 800 derajat celcius (LPKL, 2009).
   Dampak limbah untuk infeksi virus yang serius seperti HIV/AIDS serta Hepatitis B dan C, tenaga layanan kesehatan, terutama perawat, merupakan kelompok yang berisiko paling besar untuk terkena infeksi melalui cedera akibat benda tajam yang terkontaminasi (umumnya jarum suntik). Di kalangan pasien dan masyarakat, risiko terkena infeksi tersebut jauh lebih rendah. Namun, beberapa infeksi yang menyebar melalui media lain atau disebabkan oleh agens yang lebih resisten dapat menimbulkan risiko yang bermakna pada masyarakat dan pasien Rumah Sakit.
Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat tersebut. Rumah sakit sebagai salah satu upaya peningkatan kesehatan tidak hanya terdiri dari balai pengobatan dan tempat praktik dokter saja, tetapi juga ditunjang oleh unit-unit lainnya, seperti ruang operasi, laboratorium, farmasi, administrasi, dapur, laundry, pengolahan sampah dan limbah, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. Air limbah rumah sakit adalah seluruh buangan cair yang berasal dari hasil proses seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi : limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi, dapur, air bekas pencucian pakaian, limbah cair klinis yakni air limbah yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian luka, cucian darah. dan lainnya, air limbah laboratorium, dan lain-lain (Said, 2003).
Mengingat dampak yang mungkin timbul, maka diperlukan upaya pengelolaan yang baik meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana, keuangan dan tata laksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh kondisi rumah sakit yang memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan. (Jais, 2011).
C.     Cara Kerja
1.      Mahasiswa mengunjungi RS
2.      Mahasiswa mencari infoemasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pengolahan sampah medis di RS tersebut
3.      Mahasiswa melakukan pengamatan langsung diinstalasi pengolahan limbah medis
4.      Mahasiswa menganalisis informasi yang diperoleh
5.      Mahasiswa mendokumentasikan apa saja yang didapat dan diolah menjadi film documenter


D.    Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya.Apabila dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah klinis dan non klinis baik padat maupun cair. Limbah klinis berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinary, farmasi atau yang sejenisnya serta limbah yang dihasilkan rumah sakit pada saat dilakukan perawatan, pengobatan atau penelitian. Berdasarkan potensi bahaya yang ditimbulkannya limbah klinis dapat digolongkan dalam limbah benda tajam, infeksius, jaringan tubuh, citotoksik, farmasi, kimia, radio aktif dan limbah plastik.
a.       Sampah Benda Tajam
Sampah benda tajam adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit. Misalnya : jarum hipodermik, perlengkapan intervena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Selain itu meliputi benda-benda tajam yang terbuang yang mungkin terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau radio aktif.
b.      Sampah Infeksius
Sampah infeksius merupakan limbah yang dicurigai mengandung bahan pathogen.  Sampah infeksius meliputi limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular serta limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik, ruang perawatan dan ruang isolasi penyakit menular. Yang termasuk limbah jenis ini antara lain sampah mikrobiologis, produk sarah manusia, benda tajam, bangkai binatang terkontaminasi, bagian tubuh, sprei, limbah raung isolasi, limbah pembedahan, limbah unit dialisis dan peralatan terkontaminasi (medical wast).
c.       Sampah Jaringan Tubuh (Patologis)
Sampah jaringan tubuh meliputi jaringan tubuh, organ, anggota badan, placenta, darah dan cairan tubuh lain yang dibuang saat pembedahan dan autopsi. Sampah jaringan tubuh tidak memerlukan pengesahan penguburan dan hendaknya dikemas khusus, diberi label dan dibuang ke incinerator.

d.      Sampah Citotoksik
Sampah citotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi  obat citotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi citotoksik. Sampah yang terdapat sampah citotoksik didalamnya harus dibakar dalam incinerator dengan suhu diatas 1000°C.
e.       Sampah Farmasi
Sampah farmasi berasal dari : obat-obatan kadaluwarsa, obat-obatan yang terbuang karena batch tidak memenuhi spesifikasi atau telah terkontaminasi, obat-obatan yang terbuang atau dikembalikan oleh pasien, obat-obatan yang sudah tidak dipakai lagi karena tidak diperlukan dan limbah hasil produksi obat-obatan.
f.       Sampah Kimia
Sampah kimia dihasilkan dari penggunaan kimia dalam tindakan medis, vetenary, laboratorium, proses sterilisasi dan riset. Limbah kimia juga meliputi limbah farmasi dan limbah citotoksik.
g.      Limbah Radio Aktif
Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radionucleida. Asal limbah ini antara lain dari tindakan kedokteran nuklir, radioimmunoassay dan bakteriologis yang daapt berupa padat, cair dan gas.
h.      Sampah Plastik
Limbah plastik adalah bahan plastik yang dibuang oleh klinik, rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain seperti barang-barang dissposable yang terbuat dari plastik dan juga pelapis peralatan dan perlengkapan medis.
Pengelolaan sampah terdiri dari pengumpulan, pengangkutan, pemprosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam.
Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau radioaktif dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat. Praktik pengelolaan sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Teknik pengolahan sampah medis (medical waste) yang mungkin diterapkan di PKU Muhamadiyah Yogyakarta adalah
a.       Incinerasi
b.      Sterilisasi dengan uap panas/ autoclaving (pada kondisi uap jenuh C) bersuhu 121
c.       Sterilisasi dengan gas (gas yang digunakan berupa ethylene oxide atau formaldehyde)
d.      Desinfeksi zat kimia dengan proses grinding (menggunakan cairan kimia sebagai desinfektan)
e.       Inaktivasi suhu tinggi
f.       Radiasi (dengan ultraviolet atau ionisasi radiasi)
g.      Microwave treatment

Cara terbaik untuk mengurangi risiko terjadinya penularan adalah dengan menjaga agar sampah medis tersebut tetap tertutup dengan rapat. Ada beberapa prinsip dasar dan prosedur yang dapat membantu pencapaian tujuan pengurangan dari pemakaian.
Prinsip-prinsip dan prosedur tersebut adalah :
1.      Sampah dikemas dengan baik.
2.      Menjaga agar sampah tetap dalam kemasan dan tertutup rapat serta   menghindarkan hal-hal yang dapat merobek atau memecahkan kontainer limbah.
3.      Menghindari kontak fisik dengan limbah.
4.      Menggunakan alat pelindung perorangan (sarung tangan, masker, dsb. Usahakan agar sedikit mungkin memegang limbah.
5.      Membatasi jumlah orang yang berpotensi untuk tercemar.

Daftar Pustaka
Jais. 2010 Arahenvironmental.  http://www.arahenvironmental.com diakses tanggal 17 Desember 2014.
Kepmenkes 2004. Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004. Depkes Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.Tahun 2004.
LPKL, 2009  Maxpelltechnology http://www.maxpelltechnology.com diakses tanggal 17 Desember 2014.

Sumiyati, S., Imaniar, 2007, ‘Analisis Kinerja Pengolahan Air Limbah Pavilyun Kartika RSPAD Gatot Soebroto Jakarta’, Jurnal PRESIPITASI Vol. 2 No.1, ISSN 1907-187X, Jakarta

MAKALAH TENTANG ANALISIS PENCAHAYAAN DAN BUNYI DI DALAM STADION ( TUGAS FKM)

BAB 1 PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang

Bunyi
     Bunyi adalah perubahan tekanan yang dapat di deteksi oleh telinga atau kemperesi mekanical atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair padat, dan gas.

     Kebanyakkan suara merupakan gabungan berbagai sinyal tetpi bsuara murni secara teoritis dapat di jelaskan dengan kecepatan frekuensi dan diukur dalam Henz ( Hz ). Dan amplitude atau Kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel,manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi,yaitu getran udara atau medium lain,sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat di dengar oleh telinga manusia kira kira 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam  kurva responya. Suara diatas 20 kHz disebut Ultrasonic dan di bawah 20Hz disebut infrasonik.

      Tolak ukur yang dapat di terima oleh seseorang dalam mendengar suatu sumber adalah dari segi kenyaringan,tingginya dan nada suara yang dipancarkan. Tolak ukur ini menyatakan mutu sensorial dari suara sebagai ukuruan fisik dari kenyaringan ada amplitudo dan tingkat tekanan suara . untuk tingginya suara adalah frekuensi. Tentang nada,ada sejumlah besar ukuran fisik. Kecendrungan pada masa sekarang adalah menggabungkan beberapa sifat dari suara termasuk tingginya nyaringnya dan distribusi spektral sebagai nada.

PENCAHAYAAN
       Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yangaman dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baikmemungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat.
          Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi :
1.     Pencahayaan alami
Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik.
Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding dengan penggunaanpencahayaan buatan, selain karena intensitas cahaya yang tidak tetap, sumber alamimenghasilkan panas terutama saat siang hari. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agarpenggunaan sinar alami mendapat keuntungan, yaitu:
- Variasi intensitas cahaya matahari
- Distribusi dari terangnya cahaya
- Efek dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar bangunan
2. Pencahayaan buatan

     Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selain cahaya alami. Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapaioleh pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak mencukupi. Fungsi pokok pencahayaan buatan baik yang diterapkan secara tersendiri maupun yang dikombinasikan dengan pencahayaan alami adalah sebagai berikut:

- Menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni melihat secara detail serta
  terlaksananya tugas serta kegiatan visual secara mudah dan tepat
- Memungkinkan penghuni berjalan dan bergerak secara mudah dan aman
- Tidak menimbukan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja
- Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak
  berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang-bayang.
- Meningkatkan lingkungan visual yang nyaman dan meningkatkan prestasi.
B. Rumusan Masalah
  -    Bagaimana Menganalisis pencahayaan dan bunyi yang terjadi di dalam stadion
C. Tujuan
   Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai kajian mahasiswa Untuk menganalisis pencahayaan dan bunyi yang terjadi didalam suatu stadion sepak bola dan juga untuk mengetahui cara mengatasi permasalahan nya
D. Manfaat
      Memberikan informasi Bagi pembaca agar bisa mengetahui cara mengatasi permasalahan yang terjadi pada sistem pencahayaan dan juga bunyi yang di hasil di dalam stadion bisa terpantulkan sesuai dengan apa yang diharapkan.


BAB 2 : PEMBAHASAAN
       Kelelahan pada mata pemain ataupun penononton yang ada didalam stadion akan meningkat apabila tingkat cahaya di dalam stadion tidak sesuai. Hal tersebut dapat mengakibatkan pemainmengalami ketegangan pada matanya, sehingga mempengaruhi fisiknya, dan berdampak terhadap penurunan kualitas dari fisik pemain dan mengakibatkan kinerja pemain menurun. Oleh karena itu, sistem pencahayaan yang efektif harus memperhitungkan kualitas dan kuantitas cahaya yang sesuai dengan besarnya stadion karena itu mutlak sangat penting bagi semua pemain yang ada di dalam stadion.

      Keseimbangan cahaya sangat penting. Pencahayaan di lingkungan Stadion baru disebut efektif apabila pemain merasa nyaman secara visual akibat pencahayaan yang seimbang. Garris dalam Sukoco (2007) memberikan aturan umum bahwa tingkat pencahayaan pada area stadion yang dibebankan kepada pemain sebaiknya 10 hingga 30 kali pencahayaan sekitar, 50 kali lebih terang dibandingkan secara keseluruhan, dan 70 kali lebih terang dari lingkungan Stadion.
      Adapun jenis-jenis penerangan itu sendiri dibagi menjadi:
A   Penerangan alami
   Cahaya diperoleh dari sinar matahari pada siang hari sebagai ukurannya adalah faktor cahaya siang hari atau faktor langit terang. Faktor cahaya siang  hari adalah perbandingan kuat penerangan (lux) pada satu titik didalam ruangan pada bidang kerja dengan kuat penerangan dilapangan terbuka (biasanya 3000 lux atau 5000 lux). Sedangkan faktor langit terang adalah perbandingan antara kuat penerangan  langsung disuatu titik pada bidang kerja dalam ruangan dengan kuat penerangan di lapangan terbuka dari langit cerah.
B.  Penerangan buatan
   Penerangan buatan ini sering digunakan untuk penerangan dimana penerngan alami tidak dominan, seperti pada malam hari, ruang tertutup,ruang fungsi khusus dan lain-lain. Pelaksanaannya tertumpu pada daya listrik (bukan dari energi matahari).
           Penerangan yang baik adalah apabila cahaya penerangan yang cukup dan memancar dengan tepat dan memungkinkan seseorang melihat pekerjaannya dengan teliti, cepat, lebih sedikit membuat kesalahan, mata tidak cepat lelah, serta mampu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenagkan. Dan untuk mencegah kelelahan mental oleh upaya mata yang berlebihan, perlu diusahakan perbaikan kontras, meningkatkan atau meninggikan penerangan.
        Didalam suatu stadion penempatan Lampu harus benar-benar sangat mutlak di perhatikan karena sangat penting dalam suatu pertandingan ,selain itu juga pencahayaan yang kurang baik akan mengakibatkan pemain kelelahan mental oleh upaya mata yang berlebihan sehingga menurunkan kualitas fisik dari pemain tersebut. Oleh karna itu penempatan Lampu di stadion harus sejajar,dan membentuk sudut sesuai dengan besarnya suatu stadion. Selain itu juga untuk mendapatkan pencahayaan yang baik maka lampu stadion harus dibuatkn tower yang lebih tinggi agar pantulan cahaya yang dihasilkan oleh lampu tersebut bisa merata dari semua sudut stadion. Contohnya stadion Mandala Krida yang ada di kota Yogyakarta, penempatan lampunya yaitu memebentuk kotak dan sejajar selain itu juga ketinggian penempatan lampu nya  harus sangat di perhatikan karena apabila penempatan lampu nya tidak di perhatikan maka pencahayaan yang ada di stadion tersebut tidak akan merata. Selain itu juga kualitas lampu yang ada di stadion tersebut harus dirawat minimal 2 minggu sekali agar lampu stadion tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.

        Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan diruangan, termasuk di tempat kerja dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu:
1. Sistem Pencahayaan Langsung (direct lighting)
    Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi.Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan langi-langit, dinding serta benda yang ada didalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan

2. Pencahayaan Semi Langsung (semi direct lighting)
    Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding. Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesiean pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putiheffisien pemantulan antara 5-90%

3. Sistem Pencahayaan Difus (general diffus lighting)
    Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari,sedangkan sisanya dipantulka ke langit-langit dan dindng. Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistemdirect-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.

4. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (semi indirect lighting)
    Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas,sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal disarankan langit langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.

5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)
     Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh stadion. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan stadion.

      Suatu gelombang suara memancar dengan kecepatan suara dengan gerakan seperti gelombang. Jarak antara dua titik geografis (yaitu dua titik di antara mana tekanan suara maksimum dari suatu suara murni dihasilkan) yang dipisahkan hanya oleh satu periode dan yang menunjukkan tekanan suara yang sama dinamakan ‘gelombang suara’, yang dinyatakan sebagai l(m). Apabila tekanan suara pada titik sembarangan berubah secara periodik, jumlah berapa kali di mana naik-turunnya periodik ini berulang dalam satu detik dinamakan ‘frekuensi’, yang dinyatakan sebagai f(Hertz/Hz, lihat gambar gelombang sinusoidal). Suara-suara ber-frekuensi tinggi adalah suara tinggi, dan yang ber-frekuensi rendah adalah suara rendah. Hubungan antara kecepatan suara c (m/s), gelombang l dan frekuensi f dinyatakan sebagai berikut : C = f x lPanjang gelombang dari suara yang dapat didengar adalah beberapa sentimeter dan sekitar 20m. Kebanyakan dari objek di lingkungan kita ada dalam lingkup ini. Mutu suara dipengaruhi oleh kasarnya permukaan-permukaan yang memantulkan suara, tingginya pagar-pagar dan faktor-faktor lainnya, akan berbeda sebagai perbandingan dari panjang gelombang terhadap dimensi objek. 
Dari gambar garis bentuk kenyaringan dari tes (hearing) psikiatris ini bahwa batas perbedaan suara yang bisa terdengar oleh rata-rata orang adalah 20-20.000Hz tetapi bisa terdengarnya tergantung pada frekuensi. Kurva menggunakan 1000Hz dan 40dB sebagai referensi untuk suara murni dan mem-plot suara referensi ini dengan tingkat-tingkat yang bisa terdengar dari kenyaringan yang sama pada berbagai frekuensi. 
      
       Didalam suatu stadion penempatan sound audio sangat mutlak di perhatikan karena untuk menghasilkan suara yang bisa didengar oleh seluruh orang yang ada di dalam stadion. Selain itu juga alat yang digunakan juga harus yang kualitas yang sesuai standar agar suara yang di hasilkan lebih bagus. Penempatan sound audion di dalam suatu stadion juga perlu di perhatikan karena akan berpengaruh terhadap suara yang di timbulkan. Didalam stadion sound audio nya harus di tempatkan pada setiap pada ujung stadion, tengah dan ujung sisi sebaliknya. Maksud dari penempatan tersebut ialah agar suara yang di hasilkan di memantul ke atas di bawah oleh angin. Sehingga orang di dalam stadion bisa mendengarkan suara yang dihasilkan oleh sound audio tersebut.
     
       Decibel (dB) adalah ukuran energi bunyi atau kuantitas yang dipergunakan sebagai unit-unit tingkat tekanan suara berbobot A. Yang dilakukan untuk mensederhanakan plot-plot multipel seperti pada gambar dan untuk secara kira-kira menyebandingkan kuantitas logaritmik dari stimulus untuk stimulus akustik yang diterima telinga manusia dari luar.Untuk menilai kebisingan diperlukan untuk menghitung tambahnya atau kurangnya tingkat tekanan suara berbobot A rata-ratanya dan sebagainya.
       Pengaruh dan akibat kebisingan Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-kasus dimana akibat-akibat serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara berbobot A dan karena lamanya telinga terpajan terhadap kebisingan itu. 
  
BAB III : PENUTUP

KESIMPULAN
     Pencahayaan yang baik sangat mutlak di perlukan didalam suatu stadion karena pencahayaan adalah faktor penting, karena pencahayaan yang kurang baik akan menimbulkan kondisi fisik yang kurang baik bagi pemain sebab minimnya cahaya selain itu juga membuat para pemain tidak bersemangat untuk bermain.

SARAN
      Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut, maka penulis dapat memberikan saran bahwa para pengurus stadion harus lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang ada di dalam stadion sebab  pencahayaan di dalam suatu stadion sangat penting dalam suatu pertandingan dan juga sangat penting untuk kesehatan pemain.

Daftar Pustaka
Soeprihanto, John. 1988. Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan dan Pembangunan suatu stadion, Yogyakarta.
Robbin, Stephen ,P Prinsip-Prinsip dalam membangun suatu stadion yang baik , 1999, Jakarta

Kunci Gitar Lagu Sumbawa Yayan - Pamendi Ate

Ku tari jangi pang kau C F Pamendi ate mu Dm  G Pangarap ku belo ke andi F Dm Kurang apa po aku ta G C Jina kalanye leng jangi F C...