Pada tanggal 12 April 1815, tepatnya 202 tahun yang lalu, gunung berapi Tambora di pulau terpencil Sumbawa meletus sangat dahsyat sehingga awan abu tebal dibawa ke seluruh dunia, Eropa mengalami satu tahun tanpa musim panas. Di pulau Sumbawa sendiri sebuah kesultanan sampai pada akhir tragisnya yang benar-benar terkubur dalam lapisan abu. Sisa-sisa orang dan rumah yang diawetkan kemudian ditemukan dalam kondisi yang sama seperti yang ditemukan di Pompeii. Saat ini, ilmuwan mengakui letusan Tambora sebagai yang paling kuat dalam sejarah letusan gunung berapi.
Untuk memperingati peristiwa dramatis ini serta sekaligus memperingati hari jadi Kabupaten Dompu, Sumbawa tahun ini akan kembali menggelar acara Festival Pesona Tambora (FPT) 2018 pada tanggal 9 - 11 April 2018, dipusatkan di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Selain untuk memperingati hari jadi Kabupaten Dompu dan peristiwa letusan Gunung Tambora, Festival Pesona Tambora (FPT) 2018 juga dimaksudkan untuk mempromosikan Pariwisata Kabupaten Dompu sehingga kedepannya semakin banyak wisatawan yang akan berkunjung ke Kabupaten Dompu.
Acara Festival Pesona Tambora 2018 akan diisi dengan atraksi paralayang, seni budaya rakyat, dan Barapan Kebo. Sehari berselang, pelepasan peserta Tambora Challenge 320 K, Barapan Ayam, dan Kuliner disajikan di Sumbawa Barat. Serta, workshop koreografi di Istana Asi Mbojo, Kota Bima.
Selain kegiatan pentas seni dan budaya, dalam Festival Pesona Tambora 2018 diadakan juga trail adventure, sepeda gunung, memancing, paramotor dan kegiatan lainnya. Seperti tahun sebelumnyaya, kegiatan ini juga menghadirkan pengembangan ekonomi kreatif, penghijauan hutan kawasan Gunung Tambora, pameran produk unggulan seperti kopi tambora, pasar rakyat, dan pesta kuliner khas daerah.
Terletak di dekat ujung utara pulau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat, (Sumbawa terletak di antara pulau Lombok dan Flores), Gunung Tambora diketahui dunia sebagai tempat terjadinya letusan gunung berapi terbesar dan paling mematikan sejarah. Seperti gunung prasejarah Toba di Sumatera Utara, Gunung Tambora juga merupakan salah satu gunung berapi super dunia. Namun, jika mega letusan Gunung Toba - yang terjadi di masa lalu geologi - meninggalkan bekas jejaknya di Danau Toba yang masif, Gunung Tambora, sebaliknya, masih sangat aktif, sebagaimana saat ini berdiri pada ketinggian 2.751 meter.
Jika mega-letusan Gunung Toba diyakini telah menjerumuskan bumi ke dalam musim dingin vulkanik selama 6 sampai 10 tahun, dan ledakan Gunung Krakatau pada tahun 1883 menghasilkan suara paling keras yang pernah terdengar di dunia dalam sejarah modern, Letusan gunung berapi Gunung Tambora yang super dahsyat juga menciptakan bencana global pada waktu itu, setelah letusannya tahun sebelumnya, tahun 1816 selamanya diingat di Eropa dan Amerika sebagai "Tahun Tanpa Musim Panas", yang mengakibatkan kelaparan terburuk abad ke-19.
Letusannya yang dahsyat pada bulan April 1815 meninggalkan area seluas 7 Km yang mengesankan dengan kaldera berukuran 6.2 km yang berisi danau berwarna dua dengan kedalaman mencapai 800 meter. Kaldera ini juga dianggap sebagai kaldera terbesar di Indonesia.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Faozal mengatakan bahwa acara tersebut ditargetkan bisa menarik setidaknya 15.000 wisatawan domestik dan internasional.
Ada penerbangan reguler dengan Wings Air dan Garuda dari Jakarta dan Bali ke Bandara Bima di Sumbawa.